Selamat Datang !!

Mirza Adany Muktasim

Rabu, 04 November 2015

INDONESIA MEMASUKI ERA MIDDLE INCOME TRAP

Middle income trap adalah suatu kondisi dimana negara telah berhasil keluar dari zona negara berpenghasilan rendah namun tidak mampu melangkah ke zona negara berpenghasilan tinggi. Fenomena Middle Income Trap merupakan momok bagi negara berkembang karena pada kondisi ini, perekonomian suatu negara akan tetap tumbuh secara fluktuatif namun tidak akan bisa mencapai kondisi perekonomian negara maju. Kondisi Middle Income Trap merupakan situasi dimana perekonomian akan stagnan dengan pendapatan saat ini, tanpa mampu bergerak menjadi negara dengan pendapatan tinggi, tetap bergantung dengan sumber daya alam, dan tidak mampu menjadi negara maju dengan basis industri yang kuat dan modern.
Beberapa negara Amerika Latin telah gagal mencapai tingkat perekonomian dengan pendapatan yang tinggi dalam beberapa dekade sebelumnya. Sebaliknya justru beberapa negara di Asia Timur, dalam dekade baru-baru ini berhasil mencapai kesuksesan untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah. Dua negara yang dikenal memiliki sejarah Middle Income Trap yang panjang adalah Yunani dan Argentina. Argentina setidaknya harus terjebak di zona Middle Income Trap selama 40 tahun semenjak masuk ke zona negara menengah pada 1970 sebelum akhirnya masuk kategori negara berpenghasilan tinggi pada 2010 silam. Begitu pun Yunani, yang memerlukan waktu hampir 28 tahun sebelum akhirnya masuk pada golongan negara berpenghasilan tinggi.
Setelah meraih pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan, banyak negara di Asia telah naik status masuk kedalam kelompok negara berpenghasilan menengah (Middle Income Countries atau MIC), seperti Filipina, India, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos dan Indonesia. Sementara itu, beberapa negara di kawasan Asia Timur saat ini sudah masuk ke dalam kelompok High Income Countries (HIC) seperti Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. Pergeseran dari status negara berpenghasilan rendah menjadi menengah, akan serta merta memberikan dampak yang cepat kepada jumlah total agregat permintaan dan penawaran pada negara tersebut (Carnovale, 2012). Menurut Jesus Felipe (2012: 4), Indonesia dan Pakistan berada pada titik rawan yang penuh resiko untuk terjebak dalam Middle Income Trap, sedangkan Cina mampu menghindari jebakan tersebut.
Menurut Yuswohadi (2012), negara-negara tersebut bisa stuck in the middle karena setelah masuk menjadi negara berpendapatan menengah mereka merasa nyaman dan tak cukup membangun SDM dan berinovasi untuk menghasilkan produk-produk dengan kandungan teknologi yang semakin tinggi. Pada saat negara tersebut masih miskin mereka bisa memanfaatkan kemiskinannya untuk membangun daya saing melalui upah buruh yang rendah. Jadi negara-negara tersebut memacu perkembangan industri manufaktur berupah buruh rendah (labor-intensive manufacturing) seperti tekstil atau sepatu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Perkembangan pesat industri macam ini akan mendorong terciptanya lapangan kerja dan pada gilirannya akan mendorong tingkat pendapatan masyarakat.
Tapi industri manufaktur berbasis upah buruh murah ini tidak sustainable. Seiring dengan meningkatnya pendapatan, maka ongkos upah buruh pun akan meningkat. Kalau ini terjadi maka produk-produk yang dihasilkan berbagai industri tersebut tidak lagi kompetitif di pasar internasional. Kalau tidak kompetitif, maka industri-industri tersebut tak mampu berkembang, akibatnya pertumbuhan ekonomi negara menjadi terkendala.
Untuk bisa naik kelas menjadi negara maju baru dan terhindar dari middle-income trap, maka mau tak mau negara-negara tersebut harus berinovasi dan mengelola SDM/modal menjadi lebih produktif. Mereka harus membangun kemampuan R&D dan mempekerjakan SDM yang berkualitas (highly educated & skilled worker). Untuk lolos dari middle-income trap, kemajuan negara harus didukung “otak“, bukan sekedar “otot”. Korea Selatan adalah contoh negara yang sukses keluar dari middle-income trap dengan mengembangkan kemampuan R&D dan SDM. Perusahaan-perusahaan seperti Samsung, LG, Hyundai adalah perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi yang sangat baik sehingga produknya tetap kompetitif di pasar internasional.
Pada level tertentu, negara berpendapatan menengah akan menjadi tidak kompetitif pada sektor value added industries, seperti manufaktur. Industri padat karya akan mulai berpindah ke negara dengan upah rendah sehingga pertumbuhan ekonomi pada negara tersebut akan cenderung stagnan atau bahkan menurun. Negara berpenghasilan menengah (MIC) tidak hanya mengalami kesulitan untuk bersaing dengan low-wage countries, tapi juga kesulitan untuk bersaing dengan high-technology countries.
Terdapat beberapa faktor yang umumnya menyebabkan suatu negara masuk kedalam MIT. Beberapa studi menyebutkan bahwa faktor rendahnya dukungan infrastruktur, ketidakberdayaan membangun kemandirian pangan serta perlindungan sosial merupakan faktor penyebab selain tentunya faktor Sumber Daya Manusia (SDM), birokrasi, dan supremasi hukum yang juga menjadi faktor penentu.
Meskipun saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi dibanding negara-negara lain, namun industri nasional belum berkembang sebagaimana mestinya. Sebagian besar perekonomian masih disumbang oleh bahan mentah dari komoditas perkebunan dan kehutanan, sementara industri olahan belum seperti yang diharapkan. Belum lagi institusi pemerintahan yang terus digerogoti penyakit korupsi, juga tiadanya strategi jangka panjang untuk menjadikan perekonomian Indonesia lebih tangguh di masa mendatang.
Situasi Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Argentina beberapa puluh tahun, menimbulkan kekhawatiran Indonesia akan mengalami jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Indonesia saat ini masih berada di zona negara berkembang selama kurang lebih 12 tahun. Kekhawatiran pun muncul ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi turun. Hal itu merupakan gejala bahaya bagi negara berkembang karena meskipun perekonomian tumbuh, namun berada di bawah batas ideal pertumbuhan ekonomi negara berkembang yakni di kisaran 6%. Pemangkasan prediksi tersebut menurut para ekonom karena ekspor yang mulai lesu.
Banyak negara yang bisa dijadikan teladan bagi Indonesia dalam keluar dari ancaman zona Middle Income Trap ini. Salah satunya adalah Korea Selatan. Negara tersebut telah melakukan transformasi yang luar biasa dari salah satu negara termiskin di dunia menjadi negara menengah dan akhirnya masuk pada kategori negara maju hanya dalam waktu 50 tahun. Strategi yang ditempuh Korea Selatan sangatlah unik. Korea Selatan berfokus untuk mendorong sektor spesifik yang berpotensi sebagai kekuatan ekonomi negaranya, yakni sektor teknologi otomotif, elektronik, serta barang mewah lainnya. Meskipun berfokus pada sektor tersebut, Korea Selatan tidak lantas mengabaikan sektor publik yang lain. Korea Selatan tetap memperhatikan sektor lain agar tetap tumbuh meskipun cenderung stagnan.
Negara lain yang dapat dijadikan contoh bagi Indonesia dalam rangka keluar dari jebakan Middle Income Trap adalah China. Selama beberapa dekade, ekonomi China tumbuh layaknya negara berkembang pada umumnya. Namun kemudian strategi ditempuh oleh menteri keuangannya berupa pengalihan sektor subsidi bagi pertanian ke sektor manufaktur. Hal itu terbukti ampuh karena mendorong terjadinya industrialisasi sehingga bisa menekan biaya produksi yang berimbas pada nilai ekspor yang meningkat. Kemudian menteri keuangan. Cara tersebut terbukti ampuh menempatkan China dalam salah satu negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonominya yang tinggi, mencapai 7.5% setiap tahunnya.
Menurut Erani Yustika (2014: 3-4) definisi jebakan negara pendapatan menengah dikeluarkan Bank Dunia dengan dua alasan. Pertama, negara yang tidak mampu keluar dari pendapatan menengah memiliki potensi menjadi negara otoritarian. Kedua, guna menjadi negara yang tangguh terhadap hantaman krisis dibutuhkan tingkat pendapatan berkisar USD 6.000 – USD 7.000. Oleh karena itu, negara-negara emerging seperti Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mencapai tingkat pendapatan USD 6.000 – USD 7.000. Alasannya dengan tingkat pendapatan tersebut, ada potensi tabungan baik ekonomi skala rumah tangga maupun dalam skala yang lebih besar. Sementara pendapatan perkapita penduduk Indonesia saat ini dikisaran USD 4.000, masih jauh dari yang diharapkan.
Meskipun makro ekonomi Indonesia relatif kuat dibanding negara-negara lain terutama anggota G20 seperti difisit neraca fiskal kurang dari 2%, rasio utang di bawah 30%, dan transaksi berjalan 2,8% dari total PDB di tahun 2013, namun fundamental ekonomi Indonesia masih rapuh. Hal ini bisa dilihat dari kontribusi paling besar terhadap PDB adakah sektor tersier yang kurang menyerap tenaga kerja. Sementara sektor yang penyerapann tenaga kerja tinggi seperti pertanian dan industri olahan semakin terpuruk. Kinerja ekspor melemah dibandingkan impor sehingga mengakibatkan difisit neraca berjalan, dan rendahnya kualitas manusia yang menimbulkan permasalahan serius antara lain produktivitas rendah dan kurangnya inovasi dalam perekonomian.
Oleh karena itu, masalah terpenting bagi Indonesia bukanlah meningkatkan pendapatan per kapita secara cepat. Namun perlunya Indonesia menyusun dasar-dasar ekonomi yang kokoh melalui formasi aset yang merata, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan kemampuan inovasi dan penguasaan tekhnologi.
Salah satu prasyarat utama agar Indonesia dapat bermigrasi ke negara dengan klasifikasi pendapatan tinggi adalah kuatnya kapabilitas industri. Industri yang kuat akan secara langsung memperbaiki struktur neraca perdagangan dan pola penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan pendapatan per kapita (Bank Indonesia, 2013). Selama beberapa kurun waktu terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia telah menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara dengan rata-rata 6% per tahun selama periode 2009 s.d. 2013, inflasi juga dapat dikendalikan pada level rata-rata 6% s.d. 7%. Selain itu, dua lembaga credit rating agencies juga telah meningkatkan level Indonesia menjadi investment-grade level. Namun demikian, banyak pihak menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik tersebut hanya dikendalikan oleh sektor jasa dan komoditas, tidak melalui sektor manufaktur.
Menurut Dhani Setyawan (2014: 2-3), Indonesia memiliki potensi yang besar untuk beralih menjadi HIC, karena didukung oleh beberapa faktor seperti fundamental ekonomi yang baik, Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah dan juga jumlah populasi penduduk yang besar. Secara demografis Indonesia didukung oleh tingginya jumlah kelompok usia kerja yang dapat berkontribusi bagi perekonomian nasional. Berdasarkan data Bank Dunia, lebih dari 60% total populasi penduduk Indonesia berusia dibawah 39 tahun, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang signifikan. Studi Bank Dunia menyebutkan bahwa pola demografi dengan banyaknya jumlah proporsi penduduk usia kerja yang signifikan memberikan sejumlah demografic dividend bagi Indonesia karena faktor tersebut dapat membantu kinerja perekonomian. Namun demikian, disebutkan juga bahwa Indonesia tidak akan bisa melompat menjadi HIC apabila hanya bergantung kepada SDA dan murahnya harga tenaga kerja.
Pertumbuhan Indonesia sangat menjanjikan, namun tidak bisa dipungkiri terdapat beberapa faktor risiko yang bisa menempatkan Indonesia ke dalam perangkap pendapatan menengah. Untuk itu, pemerintahan Indonesia perlu memperbaiki sistem ekonomi yang sudah berjalan. Para pembuat kebijakan harus bisa melakukan transformasi struktural dan memunculkan berbagai inovasi guna memperoleh manfaat yang optimal dari sumber pertumbuhan yang ada saat ini. Indonesia tidak bisa lagi hanya bergantung kepada SDA serta tenaga kerja murah, karena pada tingkatan tertentu spillover effect dari sumber pertumbuhan tersebut akan habis. Peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM melalui pembangunan sistem pendidikan menengah dan tersier untuk menghasilkan SDM terampil dan profesional.
Masih menurut Dhani (2014: 3-4) Berbagai studi menyebutkan bahwa buruknya infrastruktur Indonesia merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan high cost economy dimana industri harus menanggung beban biaya logistik yang sangat besar. Infrastruktur dapat dikatakan sebagai lokomotif penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Perbaikan di sektor infrastruktur tentunya dapat mendorong minat investasi asing dan domestik. Keberadaan infrastruktur yang memadai akan berkontribusi kepada kelancaran distribusi barang dan jasa antarwilayah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat, mengurangi angka kemiskinan dan mewujudkan stabilisasi makro ekonomi dan yang terpenting lagi dapat menghindarkan Indonesia dari perangkap pendapatan menengah.
Namun menurut BIN (Badan Inteligen Negara) dalam buku yang dikeluarkan instansi tersebut Menyongsong 2014-2019 menyatakan bahwa Laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang bertajuk The Rise of Asia’s Middle Class menunjukkan geliat kelas menengah Indonesia yang bertumbuh pesat. Bahkan, dalam laporan Bank Dunia ‘Global Development Horizon 2011 – Multipolarity: The New Global Economy’, menempatkan Indonesia bersama sama dengan China, India, Korea Selatan, dan Brazil, sebagai episentrum pertumbuhan global dengan estimasi sebagian pertumbuhan global disumbangkan oleh keenam negara tersebut pada 2025.
Pertumbuhan kelas menengah Indonesia ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir periode Bonus Demografi pada 2040, saat struktur Demografi Indonesia didominasi oleh usia produktif, sementara dependency ratio atau persentase penduduk lanjut usia dan anak-anak semakin menurun. Kinerja perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari rasio utang terhadap pendapatan atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang dalam dekade terakhir dapat ditekan menuju level yang relatif stabil. Tahun 2001 rasio utang terhadap PDB sebesar 83 persen, menurun terus hingga 24 persen pada 2012. Rasio ini merupakan rasio utang yang sangat stabil di tengah rasio utang negara-negara kawasan Eropa, Jepang, Amerika yang mendekati 100 persen. Beberapa negara bahkan memiliki rasio utang di atas 100 persen. Dampak krisis utang zona Eropa yang berkepanjangan terhadap Indonesia relatif minim mengingat struktur ekonomi domestik relatif kuat ditopang oleh konsumsi domestik. Di sisi lain, upaya diversifikasi tujuan ekspor juga digalakkan dengan menyasar pasar-pasar nontradisional sebagai pasar tujuan ekspor utama.
Tantangan nyata ekonomi Indonesia kedepan adalah menembus tingkat pendapatan 6.000 dolar AS per kapita. Nilai tersebut yang dipandang sebagai batas bawah stabilitas politik melalui demokrasi, sedangkan stabilitas tersebut juga diperlukan untuk menjamin kemajuan ekonomi ke tahap berikutnya. Bauran strategi yang dijalankan secara serentak dan saling terintegrasi sungguh diperlukan. Apalagi para ekonom dunia juga mengingatkan bahwa krisis Eropa meyakinkan bahwa teori, konsep, serta paham ekonomi yang ada sekarang sudah kedaluwarsa untuk menjawab persoalan nyata. Dunia tidak lagi memerlukan teori besar ekonomi atau pendekatan tunggal karena terbukti tidak efektif, yang lebih diperlukan dunia adalah belajar dari pengalaman nyata negara-negara lain yang lebih berhasil menjalankan pembangunan ekonominya.
Bagi Indonesia, di antaranya adalah belajar dari Thailand yang mampu menjadikan pertanian dan perikanan sebagai salah satu ujung tombak perekonomiannya; belajar dari Korea Selatan yang tumbuh dari negara miskin menjadi negara industri yang kuat; juga belajar dari China yang tetap merendah meskipun beberapa tahun mendatang hampir pasti bakal menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia menggusur Amerika Serikat. Para ekonom dan pejabat China selalu serempak menyebut bahwa langkah China masih sangat panjang untuk dapat menyejahterakan semua penduduk. Warga China masih jauh dari sejahtera dibanding warga dari banyak negara lain. Pada akhirnya, ukuran sebenarnya hasil pembangunan ekonomi adalah seberapa sejahtera seluruh warganya sebagaimana ditunjukkan oleh nilai Indeks Pembangunan Manusianya, dan bukan ukuran lainnya.
Ada Beberapa hal yang perlu dilakukan agar Indonesia bisa keluar dari Middle Income Trap antara lain Pertama, meningkatkan tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dengan tingkat pendidikan dan kesehatan yang tinggi dapat mendorong tingkat kreatifitas dan mendukung terobosan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapakan dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi dapat menciptakan teknologi yang mendukung terwujudnya negara industri. Dengan mekanisasi di sektor industri, diharapkan dapat menurunkan biaya upah pegawai sekaligus meningkatkan produktifitas produksi. Jumlah ekspor meningkat sedangkan biaya ekspor bisa ditekan.
Kedua, mendukung terwujudnya start-up dan mendorongnya sebagai kekuatan ekonomi yang baru. Mungkin kita bisa berkaca pada Korea Selatan yang memiliki kekuatan di Industri elektronik berkat Samsung dan LG, dan di sektor otomotif berkat Hyundai, Indonesia juga perlu memberikan dukungan pada start-up agar suatu saat bisa menjadi kekuatan ekonomi baru. Pemilihan start-up harus berada pada sektor strategis bangsa, seperti sektor pertanian dan pertambangan.
Ketiga, perbaikan infrastruktur. Dengan dukungan infrastruktur yang baik, maka kegiatan perekonomian di masyarakat dapat meningkat dan arus perekonomian juga semakin lancar. Dengan infrastruktur yang baik, diharapkan investor asing akan menanamkan modalnya di Indonesia yang kemudian bisa meningkatkan perekonomian negara.
Keempat, mengalihkan subsidi ke sektor penting. Pada tahun 2014, sekitar 457 Trilliun dari total APBN Indonesia dialihkan ke sektor yang dianggap sia sia, yakni hanya untuk mensubsidi BBM. Angka itu sangatlah besar karena mencapai 22% dari total APBN Indonesia. Seharusnya, biaya tersebut dapat dialokasikan ke sektor lain yang lebih potensial seperti pertanian, industri, atau sektor lain yang dianggap sebagai sektor andalan.


References
BIN. (2014). Menyongsong 2014-2019: Memperkuat Indonesia dalam dunia yang berubah. Jakarta
Jesus Felipe, dkk. (2012). Tracking the Middle-income Trap: What Is It, Who Is in It, and Why?. ADB Economics Working Paper Series No. 306
Shekhar Aiyar, dkk. (2013). Growth Slowdowns and the Middle-Income Trap. IMF Working Paper
Dhani Setyawan. (2014). Indonesia Dalam Bayang-Bayang Middle Income Trap. www.kemenkeu.co.id/Artikel
Education World. (2015). Indonesia Dalam Middle Income Trap.
Maria Carnovale, (2012).  Developing Countries and the Middle-Income Trap: Predetermined to Fall?.  New York University
Bank Indonesia, (2013). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional. Laporan Nusantara, Volume 8 Nomor 3

Tidak ada komentar: